Pembinaan Manasik Haji Mandiri, Milad ke-33, dan Hardiknas 2026: Kyai Lukman dan Ustadz Toha Saifuddin Bekali Jamaah di Gedung Dakwah KH. Muhammad Ihya’ Ulumiddin
Tulungagung, 2 Mei 2026. Dini hari kedua rangkaian Pembinaan Manasik Haji Mandiri sekaligus Peringatan Milad ke-33 Lembaga Pendidikan Al Azhaar dan Hari Pendidikan Nasional 2026 berlangsung khidmat di Gedung Dakwah KH. Muhammad Ihya’ Ulumiddin. Usai qiyamulail berjamaah, acara pagi 2 Mei 2026 diisi oleh Kyai Lukman dengan tema Dakwah Bersama Allah, lalu dilanjutkan sesi ketiga oleh Ustadz Toha Saifuddin, petugas sekaligus jamaah haji 2026 Kabupaten Tulungagung, yang memberi bimbingan fiqih haji.
Lebih dari 350 peserta hadir. Mereka terdiri dari calon jamaah haji mandiri, wali santri, dewan guru, pengurus yayasan, alumni, dan masyarakat umum. Semangat mereka tidak surut meski rangkaian sudah berjalan sejak malam. Momentum Milad ke-33 yang bertepatan dengan Hardiknas menjadikan acara ini terasa istimewa: memadukan pendidikan, spiritualitas, dan pengabdian.

Dari Qiyamulail ke Majelis Ilmu
Kegiatan pagi dimulai pukul 05.15 WIB, langsung setelah Shalat Subuh berjamaah dan wirid ma’tsurat. MC membuka acara dengan menyampaikan bahwa seluruh rangkaian Milad tahun ini mengusung semangat kemandirian dan kebermanfaatan. Manasik haji mandiri dipilih agar jamaah tidak hanya bergantung pada pembimbing, tetapi paham ilmunya, kuat ruhnya, dan siap menjadi duta kebaikan di Tanah Suci.
Kyai Lukman kemudian mengambil alih majelis. Dengan suara tenang, beliau mengaitkan suasana qiyamulail yang baru saja dilalui dengan tema besar pagi itu: Dakwah Bersama Allah.
Kyai Lukman: Hakikat Haji adalah Dakwah Bersama Allah
Menurut Kyai Lukman, banyak orang memaknai haji sebatas menyempurnakan rukun Islam kelima. Padahal di balik thawaf, sa’i, dan wukuf, ada pesan besar tentang dakwah. Allah menghimpun jutaan manusia dari berbagai bangsa di satu tempat agar mereka saling mengenal, saling menolong, dan saling mengingatkan pada tauhid.
“Dakwah Bersama Allah artinya kita tidak sendirian. Setiap langkah kita di Tanah Suci disaksikan Allah. Setiap kesabaran kita saat berdesakan adalah syiar. Setiap bantuan kita pada jamaah lain adalah ajakan kepada kebaikan. Ini dakwah yang tidak butuh mimbar,” jelas Kyai Lukman.
Beliau menekankan tiga hal agar dakwah itu benar-benar bersama Allah. Pertama, luruskan niat. Berangkat bukan untuk gelar atau konten, tetapi untuk ijabah panggilan Allah. Kedua, jaga adab. Karena perilaku jamaah Indonesia sering menjadi rujukan bangsa lain. Ketiga, hidupkan dzikir. Sebab hati yang basah dengan dzikir akan menuntun lisan dan amal tetap terjaga.
Meneladani Guru Kita Abi Muhammad Ihya’ Ulumiddin
Dalam ceramahnya, Kyai Lukman berulang kali menyebut Murobbi kita Abi Muhammad Ihya’ Ulumiddin sebagai contoh nyata Dakwah Bersama Allah. Nama beliau pula yang diabadikan pada gedung tempat acara berlangsung. Bagi keluarga besar Al Azhaar, Abi Ihya’ bukan hanya pendiri, tetapi penunjuk jalan.
Kyai Lukman berkisah tentang kesederhanaan Abi Ihya’ dalam membina umat. Beliau mendatangi rumah ke rumah, mengajar anak-anak mengaji tanpa memungut biaya, membimbing jamaah haji dari nol sampai bisa mandiri. Dakwahnya tidak pernah transaksional. “Beliau selalu bilang, kalau sudah bersama Allah, tidak ada yang tidak mungkin. Tugas kita hanya mengetuk pintu, Allah yang bukakan,” tutur Kyai Lukman.
Pesan itu menghunjam ke hati jamaah. Tanpa dikomando, seluruh hadirin menunduk dan mengirimkan Al Fatihah untuk kesehatan dan keberkahan ilmu Abi Muhammad Ihya’ Ulumiddin. Gedung dakwah yang menyandang nama beliau seakan ikut menjadi saksi betapa dakwah yang tulus akan terus hidup.

Sesi Ketiga: Bimbingan Fiqih Haji oleh Ustadz Toha Saifuddin
Pukul 07.00 WIB, sesi ketiga dimulai. Ustadz Toha Saifuddin yang tahun ini mendapat amanah sebagai petugas sekaligus jamaah haji 2026 Kabupaten Tulungagung, menyampaikan bimbingan fiqih haji secara sistematis. Dengan pengalaman lapangan, materi yang beliau sampaikan sangat aplikatif.
Ustadz Toha menguraikan alur ibadah haji dari A sampai Z. Dimulai dari ketentuan istitha’ah, persiapan dokumen, manasik di tanah air, miqat dan cara berihram, larangan ihram, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, melontar jumrah di Mina, tahallul, thawaf ifadah, sa’i, hingga thawaf wada’. Setiap tahapan dijelaskan dalilnya, hikmahnya, dan potensi kesalahan yang sering terjadi.
“Mandiri itu berarti paham peta. Tahu kapan harus bergerak, ke mana arahnya, apa yang dibaca, dan bagaimana jika ada kondisi darurat. Petugas ada untuk membantu, tapi jamaah wajib paham,” tegasnya.
Beliau juga membagikan tips khas petugas. Misalnya cara menandai koper agar mudah dikenali, penggunaan gelang identitas, pentingnya mencatat nomor maktab dan nomor tenda, serta strategi menghindari dehidrasi saat puncak haji. Simulasi praktis memakai kain ihram dan tata cara melontar jumrah membuat suasana lebih hidup. Peserta diminta praktik langsung, lalu dikoreksi bersama.
Dialog Interaktif dan Penguatan Mental
Sesi tanya jawab berlangsung hangat. Pertanyaan muncul seputar hukum wanita haid saat akan thawaf ifadah, pembayaran dam, penggunaan obat saat ihram, hingga manajemen waktu antara ibadah dan istirahat. Ustadz Toha menjawab dengan rujukan kitab dan pengalaman di lapangan, sehingga peserta mendapat gambaran utuh.
Yang menarik, Ustadz Toha menyambungkan materi fiqih dengan tema Kyai Lukman. Beliau mengatakan bahwa memahami fiqih dengan benar adalah bagian dari Dakwah Bersama Allah. “Kalau kita salah manasik, bisa membingungkan jamaah lain. Kalau kita paham, kita bisa membimbing. Itu dakwah,” ujarnya.
Milad ke-33 dan Hardiknas 2026: Pendidikan yang Menyentuh Langit
Ketua Panitia Milad, Ustadz Fajar, menegaskan bahwa pemilihan tanggal 2 Mei bukan kebetulan. Selain hari lahir Al Azhaar ke-33, tanggal ini adalah Hari Pendidikan Nasional. Al Azhaar ingin menunjukkan bahwa pendidikan sejati adalah yang mengantarkan manusia dekat kepada Allah dan bermanfaat untuk sesama.
Penutup: Doa untuk Ustadzah Armi Nursiami
Menjelang pukul 09.00 WIB, seluruh rangkaian dini hari kedua ditutup. Ustadz Mahfud memimpin doa bersama. Doa pertama dipanjatkan untuk kemabruran haji seluruh calon jamaah, untuk keberkahan Al Azhaar di usia ke-33, untuk kemajuan pendidikan Islam, dan untuk para guru yang telah berjuang.
Doa kedua secara khusus dihadiahkan untuk mengenang wafatnya Ustadzah Armi Nursiami. Ustadz Mahfud mengajak jamaah mendoakan almarhumah, meneladani dedikasinya dalam mengajar dan mendidik dengan tulus. Suasana haru menyelimuti gedung. Banyak jamaah yang pernah menjadi murid beliau menunduk dalam doa, mengenang keteladanan dan kesabaran almarhumah.
Dengan suara lirih, Ustadz Mahfud menutup, “Ya Allah, jadikan ilmu yang beliau ajarkan sebagai amal jariyah. Temukan kami dengan beliau di surga-Mu.”
Bekal Pulang: Ilmu, Niat, dan Keteladanan
Peserta membubarkan diri dengan tertib. Panitia membagikan konsumsi dan air zamzam kemasan sebagai simbol kerinduan pada Baitullah. Wajah lelah setelah qiyamulail tergantikan dengan binar optimisme. Mereka pulang membawa tiga bekal utama.
– Bekal ruhiyah: Dakwah Bersama Allah dari Kyai Lukman, dengan keteladanan Abi Muhammad Ihya’ Ulumiddin.
– Bekal syar’i: Bimbingan fiqih haji yang detail dari Ustadz Toha Saifuddin.
– Bekal sosial: Komitmen untuk saling mendoakan, termasuk mengenang jasa para guru seperti Ustadzah Armi Nursiami.
Milad ke-33 Al Azhaar dan Hardiknas 2026 kali ini menegaskan kembali arah lembaga. Bahwa mendidik adalah mengantar manusia menjadi hamba yang sadar, mandiri, dan siap berdakwah bersama Allah di mana pun berada, termasuk di Tanah Suci.
Dari Gedung Dakwah KH. Muhammad Ihya’ Ulumiddin, semangat itu dipancarkan. Semoga menjadi wasilah lahirnya generasi dan jamaah haji yang mabrur, yang pulang membawa perubahan untuk umat.