Sejarah Pondok Sepuh BOLOREJO Tulungagung
Pada tahun 2013 KH. Imam Mawardi Ridwan mencetuskan ide untuk mendirikan Pesantren Sepuh di Tulungagung. Pesantren yang khusus berkhidmat untuk para lansia yang ingin mendalami ilmu agama dan ibadah. Seiring berjalannya waktu baru pada tahun 2021 rintisan Pesantren Sepuh mulai terwujud.
Menempati rumah sempit di salah satu kawasan Perumahan di Tulungagung barat, Pondok Sepuh mengawali dengan mengasuh satu orang santri Sepuh yang terlantar di jalanan, Mbah Jarmi namanya. Disamping terlantar ia juga sudah pikun. Suaminya sudah meninggal dunia dan dua anak putrinya menghilang meninggalkan keluarga begitu saja. Potret lansia sebatang kara nan merana di kala senja.
Pada tahap awal perjuangan, sebagaimana Pesantren lain yang dalam masa rintisan, Pondok Sepuh juga mengalami masa masa keprihatinan dan tirakat. Karena persediaan bahan makanan yang terbatas, para santri Sepuh yang masih sehat melakukan puasa Daud untuk ibadah utama, sekaligus menghemat bahan makanan.
Jika tidak berpuasa, maka jatah makan hanya dua kali yakni pagi dan sore dengan menu nasi dan sayur lodeh saja tanpa lauk. Lansia yang dalam posisi total bedrest (ngebrok) hanya menggunakan kain handuk bekas untuk menahan kotoran karena ketiadaan pampers.

Rintisan Pesantren lansia ini diasuh oleh salah satu santri KH. Imam Mawardi Yakni Ustadz Purwo Asmadi yang merupakan alumni Akademi Perawat yang melanjutkan studi sebagai Sarjana Pendidikan Agama Islam.
Setelah beberapa tahun berjalan bersamaan dengan perkembangan dan bertambahnya santri Sepuh, pada akhir tahun 2024 Pesantren menempati lahan wakaf seluas 2.800 m di Desa BOLOREJO Kauman yang merupakan lahan wakaf dari Alm. Bpk drs H. Moh. Djajeng AR. SH dan Alm. Dr. drs. Sunjoto, SH, M. Si.
Kemudian pada perjalanan selanjutnya KH. Imam Mawardi selaku Pembina Yayasan menugaskan Ustadz Abdul Adhim untuk mendampingi Ustadz Purwo Asmadi berkhidmat di Pondok Sepuh.

Setelah bertugas Sejak pembukaan lahan wakaf sampai Pondok berjalan satu tahun lebih, Ustadz Abdul admin wafat karena sakit. Perjuangan tidak berhenti,
di bawah Yayasan Kekerabatan Muslim Tulungagung ,Pondok Sepuh mulai menunjukkan geliat perkembangan. Proses pembangunan terus berjalan dan juga beberapa fasilitas perlahan mulai dilengkapi.
Saat ini ada dua blok asrama dan finishing pembangunan masjid pondok. Rencana ke depan program bangunan meliputi penambahan blok asrama, gudang, pos kesehatan pesantren, villa, tamu, kopontren, rumah pengasuh dan Pendopo Kasepuhan. Adapun penambahan fasilitas yang direncanakan meliputi lahan ketahanan pangan, armada transportasi, area parkir , taman dan lapangan ramah lansia.
Ketua Yayasan Kekerabatan Muslim Tulungagung Arief Eddy Purwanto menjelaskan, dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk mewujudkan pesantren lansia yang saat ini sangat dibutuhkan Ummat. “Realitas menunjukkan masih banyak lansia terlantar yang membutuhkan tempat berlindung lahir batin, mereka butuh tempat bernaung sekaligus menata ibadah di hari senja” tutur Arief yang merupakan Tokoh Pengusaha dan Jurnalis senior di Tulungagung ini.

Saat ini Pondok sepuh mengasuh total 32 santri lansia dengan segala problematikanya. Kegiatan utama Pesantren meliputi Sholat jamaah, Ngaji Kitab, Dzikir, Wirid, Sholawat dan Al Qur’an. Disamping kegiatan ibadah para santri sepuh juga mendapat perawatan kesehatan , senam, cek kesehatan, berkebun, rekreasi, dan kegiatan sosial lainnya.
KH Imam Mawardi Ridwan selaku Pembina Yayasan menekankan pentingnya kesabaran & keikhlasan dalam perjuangan Agama.
“Semoga Pondok Sepuh membawa berkah & manfaat bagi Ummat” tandas Kiai kharismatik yang juga Pengasuh Pesantren Al Azhaar Tulungagung dan Wakil Ketua LDNU Jatim tersebut.